Menjadi PNS
Ada seorang guru honorer ingin jadi PNS, sudah jadi guru honorer lebih dari 10 tahun. Masa iya seumur hidup honorer terus? Tapi…
IPK S1 dibawah 2,75 dimana syarat PNS mesti diatasnya. Tapi ditetap ingin.
Saat ada perekrutan PNS, pihak sekolah menginformasikan dan memang di sekolah itu ada kebutuhan yang pas dengan keahlian dia.
Maka dia mendaftar dan mulailah seleksi berkas…
Dia melengkapi berkas dimana nilai IPKnya dibawah persyaratan. Sementara berkas ribuan pelamar lain di seluruh kotanya memiliki IPK diatas atau minimal sesuai dengan syarat yang ditentukan.
Lalu dia berdoa, semoga pihak penyeleksi salah lihat IPKnya…
Doa yang tulus, ikhlas, dan penuh kepasrahan…
Lalu saat pengumuman tiba, persis sebelum maghrib melalui group whatsapp guru sekolah tempat dia bekerja, ternyata…
Namanya tercantum! Allahu Akbar!
Sekarang tinggal seleksi ujian CPNS dimana dia mesti bersaing dengan ribuan calon lain dengan latar belakang pendidikan yang luar biasa.
Ada lulusan UI, ITB, IPB, serta kampus favorit lain dimana dulu dia tidak diterima disana, cukup puas dengan D3 swasta itu pun tamat 6 tahun, lanjut S1 swasta kelas karyawan.
Tapi daripada memelihara rasa khawatir, dia terus istighfar, shalawat, bahkan membaca QS An Naas berulang-ulang sampai lega. Sampai rasa was-was itu hilang.
Usianya sudah 42 tahun, sudah menjadi guru honorer sejak usia 27 tahun, sudah berkeluarga dengan 3 anak. Paling besar masuk pesantren setara SMA, kedua SD kelas 1, paling kecil 4 tahun.
Tentu harapan besar diangkat PNS, apalagi melihat masa bakti sebagai honorer, terlebih pula masa produktif yang hampir dianggap “expired”.
Maka diangkat menjadi PNS seperti “ini kesempatan saya!” Maka dia pun berulang kali meneguhkan dirinya “Saya bisa, saya memilih bisa, saya bisa saja bisa, saya yakin bisa, saya bisa!”
Berulang-ulang mengucapkan kalimat itu membuatnya mengabaikan di sekolahnya sendiri sudah banyak persaingan.
Lalu saat ujian tiba, dia pun merasa…
“Susah banget!”
Ujarnya saat bercerita ke saya.
Tapi, tak berhenti meneguhkan hati dengan istighfar tadi dan afirmasi. Hingga saat pengumuman…
Dia lulus!
Ada rasa bangga bukan karena lulusnya, tapi ada teman-teman dari kampus ternama yang tidak lulus.
“Waktu SMP, masuk sekolah swasta bukan karena idealis ingin sekolah disitu. Melainkan karena gak lulus negeri! Pun masuk SMA swasta, karena gak lulus SMA negeri.
Kuliah pun sama, masuk D3 BSI karena gak masuk kampus negeri. Rasanya kok diri ini belet banget ya, ada rasa minder alias merasa bodoh!
Tapi sejak membaca materi kelas afirmasi online dan diam-diam nonton youtube ahmad sofyan hadi, saya jadi semangat dan praktek ke diri sendiri.
Bahkan di sekolah meskipun status honorer, saya diminta jadi wali kelas 12, dimana dari 37 siswa ada lebih dari 30 siswa masuk PTN karena saya motivasi terus. Saya jadi wali kelas 12 bertahun-tahun karena dianggap berhasil.
Padahal saya hanya menyampaikan kembali materi yang diajarkan kelas afirmasi online dan youtube ahmad sofyan hadi.”
Sekarang, beliau sudah resmi menjadi guru PNS, sudah punya pengaruh besar di sekolah itu. Jangan lihat masa lalunya yang pernah kalah, pernah salah, pernah tak berharga.
Dia memilih bisa, memilih layak, memilih berharga.
Maju terus saudaraku, dan untuk semua teman yang memilih memperbaiki masa depan. Menjadi apa pun, pilihlah menjadi yang lebih baik.
Semangat ya, Allah selalu bersama prasangka hambaNya.
Wallahu’alam.
Ahmad Sofyan Hadi
Penulis Buku Reset Hati Instal Pikiran
Download Free Ebook “Temukan Mentalblock melalui Analisa Tanda Tangan ”
http://guruahmadfauzi.behindsign.com
🏡KELAS AFIRMASI ONLINE
Dengan visi besar “Memutus Rantai Kekerasan dalam Rumah Tangga”

